Menarik sekali membaca topik yang dilontarkan oleh Robert
Kiyosakhi dalam beberapa buku nya yang mengupas masalah keuangan dan cara
mengelolanya. Disebutkan dalam bukunya yang terbaru “Why A student work for C
student and B student work for the government” mengapa seorang mahasiswa yang
lulus dengan nilai A biasanya bekerja pada mahasiswa dengan nilai biasa biasa saja yang
bernilai rata rata C, dan mahasiswa dengan nilai B biasanya bekerja pada pemerintah
atau sebagai pegawai negri.
Disebtkan bahwa mahasiswa perlu melek ilmu
tentang keuangan atau hal mengenai mengelola keuangan. Situasi yang terjadi
saat ini adalah mahasiswa yang pandai secara akademik atau kumlaude biasanya
tidak menciptakan lapangan kerja. Mereka lebih tertarik mencari kerja dengan
gaji tinggi atau mapan. Pemilik kerja yang menampung mereka, biasanya luusan
dengan nilai pas-pasan. Hal ini kemungkinan karena mahasiswa dengan nilai A terlalu fokus pada perkuliahan dan nilai C selama kuliah sudah mencari peluang usaha sembari kuliah.
Mahasiswa perlu dibekali ilmu tentang
mengelola uang karena dengan mengelola uang yang benar, mereka dapat lebih
bermanfaat seperti membuka lapangan kerja, dan yang paling didambakan banyak
orang adalah kebebasan finansial, bebas dari rasa takut kekurangan uang, dapat
berkarya tidak terikat dengan orang lain, memiliki waktu yang luas sehingga
dapat berkumpul dengan keluarga dengan waktu yang semaunya. Bebas secara
finansial berarti dapat pergi kemanapun dan kapanpun di dunia, dengan penghasilan
yang tidak perlu dipikirkan lagi karena uang mengalir tanpa perlu bekerja.
Melek secara finansial juga berarti dapat
menyadari bahwa seseorang tidak perlu bekerja untuk mencari gaji, karena semakin
tinggi gaji, maka pajak yang akan dibayarkan ke pemerintah akan semakin besar.
Hal ini berbeda dengan seorang pebisnis atau investor yang dapat menekan
peneluaran pajak sedemikian rendahnya.
Bagaimana dengan mahasiswa yang lulus dengan nilai tanggung atau B? Mereka biasanya mencari rasa aman dan membuat
kebijaksanaan dengan bekerja di pemerintahan. Mereka membuat peraturan tentang
pajak, dana pensiun, dan kesehatan, yang sebenarnya belum jelas darimana dana
yang diperoleh untuk membiayai pensiun dan kesehatan. Biaya penisun dan kesehatan ternyata sangat membebani pemerintah dan biasanya diambilkan dari pajak yang dibebankan pada orang dungeon gaji tinggi.
Dalam buku ini juga dikupas macam-macam
sumber penghasilan berdasar pembagian kuadran orang bekerja. Kuadran employee
(E) atau pekerja, berisi orang yang maunya hanya menjadi karyawan dengan gaji
tetap dan terus menerus merasa kekurangan karena gaji jarang naik mengikuti
inflasi. Golongan berikut adalah orang di kuadran self employee (S) atau orang
yang bekerja pada dirinya sendiri seperti dokter, artis, dan pengacara.
Penghsilannya juga tergantung dari orang lain dan aktifitasnya dalam bekerja.
Penghasilannya dapat besar tetapi dia harus bekerja keras sampai meningglakan
kehidupan sosial dan keluarganya. Kedua golongan tersebut dikenai pajak yang
makin tinggi seiring jumlah penghasilan yang didapat. Golongan ketiga adalah
kuadran pebisnis (B). Orang di kuadran bisnis memiliki usaha yang dijalankan dengan system. Orang bisnis
tidak perlu terjun langsung mengurusi bisnisnya selama system dijalankan.
Kuadran ini memungkinkan seseoag mempunyai pasif income dan dikenai pajak
relative lebih kecil daripada kuadran E dan S.
Kuadran keempat berisi orang
dengan uang yang diinvestasikan dalam sebuah usaha (I). Investasi ini membuat uang yang bekerja dan menghasilkan keuntungan yang terus mengalir.
Investasi dapat dilakukan dengan membeli saham perusahaan dalam jumlah besar
dan menunggu deviden yang dibagi tiap tahun.
Mahasiswa yang memahami seluk beluk
keuangan ini, dapat mulai mempersiapkan diri, mau jadi E, S, yang terus bekerja
demi mendapatkan penghasilan yang dikenai pajak besar, atau jadi B, I yang
memungkinkan waktu hidupnya dapat bebas berkarya tanpa takut kesulitan
keuangan, dan lebih memberi manfaat buat banyak orang.
Anda dapat berada di kuadran E, S, B, dan I sekaligus